
Tahun 2450 SM
(orang-orang Mesir kuno telah memulai perhitungan tentang unsur-unsur
segitiga dan menemukan segitiga keramat dengan sisi-sisi 3, 4 dan 5)
Dalam perancangan Piramida Cherpen orang-orang Mesir Kuno menggunakan
konsep Segitiga Suci Mesir (Sacred Triangle) dengan perbandingan
sisi-sisinya 3:4:5 yang dengan nama lain disebut sebagai segitiga
Phytagorean dan pada Piramida Khufu disebut Segitiga Emas (The Golden
Triangle). Dengan mengukur batang menurut garis dari jaringan geometri
diheptagonal. Proyek Piramida Cherpen dan Khufu menggunakan metode
pengukuran dan nilai esoteric yang berbeda.
Penyelidikan-penyelidikan yang baru agaknya menunjukkan bahwa orang
Mesir Kuno mengetahui bahwa luas setiap segitiga ditentuka oleh hasil
kali alas dan tinggi. Beberapa soal nampaknya membahas cotangent dari
sudut dihedral antara alas dari sebuah permukaan piramida, dan beberapa
lagi menunjukkan perbandingan. Dalam sumber-sumber Mesir, K=(a+c)(b+d)/4
telah dipakai untuk menemukan luas dari segiempat panjang dengan
sisi-sisi berturut-turut a, b, c, dan d.
Tahun 1650 SM
(orang Mesir Kuno menemukan nilai phi (π) yaitu 3,16)
Sumber informasi matematika Mesir Kuno adalah Papyrus Moskow dan Papyrus
Rhind. Papyrus Moskow berukuran tinggi 8 cm dan lebar 540 cm sedangkan
Papyrus Rhind memiliki tinggi 33 cm dan lebar 565 cm. Dari 100 soal-soal
dalam lembaran Papyrus Moskow dan Rhind terdapat 26 soal bersifat
geometris. sebagian besar dari soal-soal tersebut berasal dari
rumus-rumus pengukuran yang diperlukan untuk menghitung luas tanah dan
isi lumbug padi-padian. Luas sebuah lingkaran dipandang sama dengan
kuadrat 8/9 kali garis tengahnya. Jadi jika diuraikan kira-kira seperti
ini:
luas lingkaran = (8/9 x d)2
kita tahu bahwa d = 2r, sehingga diperoleh:
luas lingkaran = (8/9 x d)2
= 64/81 x 4r2
= 256/81 x r2
= 3,16 r2
Sehingga orang Mesir Kuno telah menemukan nilai phi (π) yaitu 3,16.
Tahun 530 SM
(Pythagoras mempelajarai proposisi geometri dan menemukan bilangan irrasional)
Tahun 370 SM
(Eudoxus menemukan cara menghitung luas daerah dengan metode menghabiskan)
Tahun 350 SM
(Aristoteles membuat buku logika pertama yang diberi nama Organon)
Penyelidikan Aristoteles tentang teori logika dipandang sebagai karya
yang paling pentong dari sekian banyak karyanya. Aristoteles adalah
tokoh yang mengenalkan logika sebagai sebuah ilmu yang kemudian disebut
Logika Scintica, sehingga dia disebut penemu, pelopor atau “Bapak
Logika”.
Inti dari logika Aristoteles adalah Silogisme. Sesungguhnya,
silogismelah yang merupakan penemuan Aristoteles yang murni dan yang
terbesar dalam logika. Silogisme adalah suatu bentuk dari cara
memperoleh konklusi yang ditarik dari proposisi demi meraih
kebenaran.Silogisme terdiri atas tiga proposisi. Dari ketiga proposisi
itu, proposisi yang ketiga merupakan konklusi yang ditarik dari
proposisi pertama dengan bantuan proposisi kedua. Proposisi ketiga
disebut konklusi, sedangkan proposisi pertama dan kedua disebut premis.
Aristoteles mewariskan enam buah buku mengenai logika yang oleh muridnya
dinamai to Organon yang berarti alat. Keenam buku tersebut adalah
1. Categoriae, menguraikan tentang pengertian suatu yang ada
2. De Interpretatione, membahas tentang keputusan-keputusan
3. Analytica Posteriora, membahas tentang pembuktian
4. Analytica Priora, membahas silogisme (syllogismos)
5. Topica, memberi contoh uraian tentang argumentasi dan metode berdebat
6. De Sohisticis Elenchis, membahas kesesatan dan kekeliruan berpikir
Tahun 300 SM
(Euclides menerbitkan buku geometri yang berjudul Element)
Euclides adalah sebagai bapak geometri yang dalam bukunya yang berjudul
Elemen, ia mengemukakan teori bilangan dan geometri. Dalam buku yang
terdiri dari 13 jilid itu memuat sistem aksiomatik. Menurutnya satu hal
yang paling penting untuk dicatat, bahwa dalam pembuktian
teorema-teorema geometri tak diperlukan adanya contoh dari dunia nyata
tetapi cukup dengan deduksi logis menggunakan aksioma-aksioma yang telah
dirumuskan.
Tahun 260 SM
(Archimedes menemukan bilangan phi lebih teliti dari sebelumnya)
Archimedes dari Syracusa, belajar di kota Alexandria, Mesir. Pada waktu
itu yang menjadi raja di Sirakusa adalah Hieron II, sahabat Archimedes.
Archimedes sendiri adalah seorang matematikawan, astronom, filsuf,
fisikawan, dan insinyur berbangsa Yunani. Di bidang matematika,
penemuannya terhadap nilai phi lebih mendekati dari ilmuan sebelumnya,
yaitu 223/71 dan 220/70. Sebagian sejarahwan matematika memandang
Archimedes sebagai salah satu matematikawan terbesar sejarah, mungkin
bersama-sama Newton dan Gauss. Archimedes adalah orang yang mendasarkan
penemuannya dengan eksperiman. Sehingga, ia dijuluki Bapak IPA
Eksperimental.
Tahun 225 SM
(Apollonius menerbitkan buku tentang perhitungan pada irisan kerucut)
Apollonius dari Perga (bahasa Yunani: Ἀπολλώνιος) adalah seorang ahli
geometri dan astronom Yunani yang dikenal karena karyanya mengenai
irisan kerucut. Karyanya yang diberi nama Conics itu mengenalkan
istilah-istilah yang sekarang populer seperti: parabola, elips, dan
hiperbola. Meskipun sebenarnya Archimedes sudah mencetuskan nama
parabola yang artinya bagian sudut kanan kerucut. Apollonius mungkin
melanjutkan penamaan Archimedes mengenalkan elips dan hiperbola dalam
kaitannya dengan kurva-kurva tersebut. Istilah parabola, elips, dan
hiperbola bukanlah penemuan Archimedes maupun Apollonius, mereka
mengadaptasi kata dan artinya dari para pengikut Pythagoras
(Pythagorean), dalam menyelesaikan persamaan-persamaan kuadratik untuk
aplikasi mencari luas. Apollnius menggunakan ketiga istilah tersebut
dalam konteks baru yaitu sebagai persamaan parabola dengan verteks pada
titik asal (0,0) sistem Kartesian yaitu y2 = lx dimana l adalah “Latus
Rectum” atau parameter sekarang diganti dengan 2p atau bahkan 4p.
Tahun 200 SM
(Eratosthenes menemukan cara mencari bilangan-bilangan prima)
Eratosthenes (bahasa Yunani: Ἐρατοσθένης) dilahirkan di Cyrene (Libya
saat ini), tetapi bekerja dan meninggal di Alexandria. Eratosthenes
belajar di Alexandria dan untuk beberapa tahun di Athena. Pada 236 SM ia
ditunjuk oleh Ptolemy III Euergetes I sebagai pustakawan Perpustakaan
Alexandria, menggantikan pustakawan pertama, Zenodotos. Dia membuat
beberapa sumbangan penting pada matematika dan sains, dan merupakan
teman baik Archimedes. Sekitar 255 SM ia menciptakan Saringan
Eratosthenes sebagai cara menemukan bilangan prima.
Tahun 140 SM
(Hipparchus mengembangkan trigonometri)
Hipparchus (bahasa Yunani: Ἳππαρχος) dilahirkan di Nicea (sekarang
Iznik, Turki), dan kemungkinan meninggal di Pulau Rhodes. Ia juga yang
pertama mengompilasi tabel trigonometri, yang membuatnya dapat
memecahkan masalah-masalah segitiga. Dengan teori matahari dan bulan dan
trigonometri numerik miliknya, ia berhasil membangun metode dalam
memperkirakan gerhana matahari.
Tahun 250
(Diophantus menemukan variabel penulisan aljabar dan arithmetika)
Penyelidikan sejarah cenderung menempatkan Diophantus hidup sekitar
tahun 250 pada abad ke-3. Diperkirakan Diophantus seorang matematikawa
Yunani yang bermukim di Iskandaria. Terdapat problem terkenal pada
sebuah epigram dalam anthology Yunani, yang kesannya memberi perincian
dari umur Diophantus, tertulis dalam bentuk persamaan, sebagai berikut:
“Seperenam kehidupan yang diberikan Tuhan kepadaku adalah masa muda.
Setelah itu, sperduabelasnya, cambang dan berewokku mulai tumbuh.
Ditambah mas hidupku untuk menikah, dan tahun kelima mempunyai anak.
Sialnya, setengah waktu kehidupanku untuk mengurus anak. Empat tahun
kugunkan bersedih. Bearpa umur Diophantus?”
Misal umur Diophantus adalah x, sehingga x=1/6x+1/12x+1/7x+5+1/2x+4
diperoleh x=84. Daripemecahan peroblem ini diketahui umur Diophantus
adalah 84 tahun, sedang dia menikah pada umur 26 tahun, dan usia anaknya
setengah dari usianya yaitu 42 tahun.
Semasa hidupnya Diophantus menulis tiga buah karya. Akan tetapi
Arithmetica adalah karyanya yang terkenal. Arithmetica adalah suatu
pembahasan analitis tentang teori bilangan yang isinya merupakan
pengembangan aljabar yang dilakukan dengan membuat persamaan.
Persamaan-persamaan tersebut dikenal sebagai Diophantine Eqution
(Persamaan Diophantus). Meskipun merupakan karangan dalam bidang aljabar
tetapi susunan dalam Arithmetica tidak secara sistematik
operasi-operasi aljabar, fungsi-fungsi aljabar atau solusi terhadap
persamaan-persamaan aljbar. Dalam memecahkan soal-soal, Diophantus hanya
mengenal jawaban yang rasional dan positf, ia tidak mempunyai dugaan
untuk nol dan ia menghindarkan koefisien negatif, serta hanya satu
jawaban untuk satu soal.
Arithmetica sebenarnya terdiri dari 13 buku tetapi yang dapat dibaca
hanya 6 buku karena sisanya ikut terbakar pada penghancuran perpustakaan
di Iskandaria. Bagian yang terpelihara dari Arithmetica karya
Diophnatus ini berisi pemecahan kira-kira 130 soal yang sagat
bermacam-macam, yang menghasilkan persamaan-persamaan tingkat pertama
dan kedua.
Tahun 450
(Tsu Ch’ung-Chih dan Tsu Kêng-Chih menemukan penulisan bilangan phi untuk 6 desimal)
Tahun 550
(bangsa Hindu menemukan bilangan nol dan penulisan sistem letak untuk bilangan)
Angka India atau Argam Hindiyyah dimulai satu tempat kosong untuk angka
nol, ini terbukti telah dituliskan posisi itu pada Kitab Injil orang
India. Para ahli matematika India telah lama menemukan bilangan nol,
tetapi belum ada simbolnya. Kemudian Arybrata menyebut bilangan nol
dengan kata “kha”. Aryabrata telah memasukkan nol dalam sistem
perhitungan bukan sekedar tempat kosong.
Konsep bilangan nol menggunakan satu tempat kosong di dalam pengaturan
bentuk tabel telah dikenal dan digunakan di India dari abad ke-6. Naskah
tertua yang diketahui menggunakan nol adalah karaya Jain dari India
yang berjudul Lokavibhaaga, berangka tahun 458. Penggunaan simbol nol
oleh orang India yang pasti adalah di Gwalior Tablet Stone pada tahun
876. Dokumen tersebut tercetak pada lempengan tenbaga dengan simbol “o”
kecil tercetak di situ. Ensiklopedi Britanica mengatakan “Literatur
Hindu membuktikan bahwa bilangan nol mungkin telah dikenal di depan
kelahiran Kristus, tetapi tidak ada catatan yang ditemukan dengan simbol
seperti itu di depan abad ke-9.
Ide-ide brilian dari matematikawan India selanjutnya dipelajari oleh
matematikawan Muslim dan Arab. Hal ini terjadi pada tahap-rahap awal
ketika matematikawan Al-Khawarizmi meneliti sistem perhitungan Hindu
(India) yang menggambarkan sistem nilai tempat dari bilangan yang
melibatkan bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9.Al-Khawarizmi
adalah yang pertama kali memperkenalkan penggunaan bilangan nol sebagai
nilai tempat dalam basis sepuluh. Sistem ini disebut Sebagai Sistem
Bilangan Desimal.
Tahun 750
(Al-Khawarizmi menemukan aljabar)
Tahun 895
(Thabit ibn Qurra menemukan penyelesaian persamaan pangkat 3)
Tahun 975
(Al-Batani menemukan konsep sinus dan cosinus serta rumus sin α = tan α / (1+tan² α) and cos α = 1 / (1 + tan² α))
Al Battani (sekitar 850- 923) adalah seorang ahli astronomi dan
matematikawan dari Arab. Al Battani (Bahasa Arab أبو عبد الله محمد بن
جابر بن سنان الحراني الصابي البتاني ; nama lengkap: Abū ʿAbdullāh
Muḥammad ibn Jābir ibn Sinān ar-Raqqī al-Ḥarrani aṣ-Ṣabiʾ al-Battānī),
lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya yang terkenal
adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46
menit dan 24 detik.
Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri:
Beliau juga memecahkan persamaan sin x = a cos x dan menemukan rumus:
dan menggunakan gagasan al-Marwazi tentang tangen dalam mengembangkan
persamaan-persamaan untuk menghitung tangen, cotangen dan menyusun
tabel perhitungan tangen.
Tahun 1020
(Abul Wafa menemukan rumus (α + β) = sin α cos β + sin β cos α)
Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail Buzjani (Buzhgan,
Nishapur, Iran, 940 – 997 / 998) adalah seorang ahli astronomi dan
matematikawan dari Persia. Pada tahun 959, Abul Wafa pindah ke Irak, dan
mempelajari matematika khususnya trigonometri di sana. Dia juga
mempelajari pergerakan bulan; salah satu kawah di bulan dinamai Abul
Wáfa sesuai dengan namanya.
Salah satu kontribusinya dalam trigonometri adalah mengembangkan fungsi
tangen dan mengembangkan metode untuk menghitung tabel trigonometri.
Abul Wafa menemukan relasi identitas trigonometri berikut ini:
sin(a + b) = sin(a)cos(b) + cos(a)sin(b)
cos(2a) = 1 − 2sin2(a)
sin(2a) = 2sin(a)cos(a)
dan menemukan rumus sinus untuk geometri sferik (yang tampak mirip dengan hukum sinus):
serta juga menemukan rumus (α + β) = sin α cos β + sin β cos α .
Tahun 1030
(Ali Ahmed Nasawi menemukan sistem satu hari terbagi menjadi 24 jam,
satu jam terbagi menjadi 60menit, satu menit terbagi menjadi 60 detik)
Tahun 1070
(‘Umar Khayyam menulis Treatise on Demonstration of Problems of Algebra)
‘Umar Khayyām (18 Mei 1048 – 4 Desember 1131, dalam bahasa Persia عمر
خیام), dilahirkan di Nishapur, Iran. Nama aslinya adalah Ghiyātsuddin
Abulfatah ‘Umar bin Ibrahim Khayyāmi Nisyābūri (غياث الدين ابو الفتح عمر
بن ابراهيم خيام نيشابوري). Khayyām berarti “pembuat tenda” dalam bahasa
Persia.
Tahun 1202
(Leonardo Fibonacci memperkenalkan sistim bilangan arab dalam bukunya Book of the Abacus)
Tahun 1614
(John Napier menemukan logaritma Napier yang ditulis di bukunya Mirifici Logarithmorum Canonis Descriptio)
John Napier (1550-1617) ialah seorang bangsawan dari Merchiston,
Skotlandia yang menemukan ide tentang logaritma Napier yang ditulis di
bukunya Mirifici Logarithmorum Canonis Descriptio. Dengan bantuan
logaritma, perhitungan yang melibatkan bilangan-bilangan besar dapat
dipermudah.
Tahun 1617
(Henry Briggs menemukan logaritma berbasis 10 yang ditulis dalam bukunya Logarithmorum Chilias Prima)
Henry Briggs (Februari 1561 – 26 Januari 1630) adalah matematikawan
Inggris yang termasyur telah merubah logaritma Napier menjadi logaritma
umum atau Briggisian. Briggs membaca karya Napier untuk pertama kalinya
pada tahun 1614 dalam bahasa Latin, sebelum melakukan kunjungan ke
Edinburgh, puri tempat tinggal Napier pada tahun 1615. Dalam pertemuan
itu Briggs mengusulkan tentang modifikasi yang dilakukannya untuk
mengubah basis logaritma menjadi 1, bukan 107, hasilnya adalah 0 dengan
menggunakan basis 10 (desimal) akhirnya ditemukan log 10=1=100 (seperti
yang digunakan sekarang) dan Briggs akan menyusun tabelnya. Briggs
kemudian pulang dan menyusun tabel yang dijanjikannya. Setahun kemudian,
Briggs datang dan melakukan diskusi kembali. Akhirnya pada tahun 1617,
Briggs menerbitkan karya tentang logaritma basis 10 yang berjudul
Logarithmorum Chilias Prima (Memperkenalkan Logaritma) di London.
Tahun 1619
(René Descartes menemukan geometri analitik)
René Descartes lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – wafat di
Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun, juga dikenal
sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan
seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting
ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima
Philosophia (1641). Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya,
dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius,
yang mempengaruhi perkembangan kalkulus modern. Pada tahun 1619 René
Descartes memperkenalkan Geometri Analitik yang sangat berpengaruh dalam
pengembangan kalkulus oleh Isaac Newton dan G.W. Leibniz.
Geometri Analitik berperan penting dalam pengembangan matematika karena
telah mempersatukan konsep-konsep dari analisa dan geometri. Dengan cara
ini suatu masalah geometris dapat diterjemahkan ke dalam suatu masalah
secara aljabar, seperti menemukan akar dari suatu sistem persamaan.
Tahun 1629
(Pierre de Fermat menemukan kalkulus differensial)
Tahun 1654
(Blaise Pascal menemukan teori probabilitas)
Blaise Pascal (1623-1662) berasal dari Perancis. Minat utamanya ialah
filsafat dan agama, sedangkan hobinya yang lain adalah matematika dan
geometri proyektif. Pada awalnya minat riset dari Pascal lebih banyak
pada bidang ilmu pengetahuan dan ilmu terapan, di mana dia telah
berhasil menciptakan mesin penghitung yang dikenal pertama kali. Mesin
itu hanya dapat menghitung operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian ,
dan pembagian.
Bersama dengan Pierre de Fermat menemukan teori tentang probabilitas.
Pascal melakukan kolaborasi dengan Fermat menemukan Teori Probabilitas
lewat judi lempengan dua dadu dipelajari bersama teman ayahnya itu.
Keduanya ternyata mampu member dasar perkembangan bidang seperti
menghitung resiko asuransi, mengiterprestasikan statistik, mempelajari
keturunan, koin yang dilempar (angka dan gambar). Apabila probabilitas
menurun, nisbah di atas makin kecil. Jika tidak ada kemungkinan terjadi,
maka probabilitas adalah nol.
1
1 1
1 2 1
1 3 3 1
1 4 6 4 1
1 5 10 10 5 1
Segitiga Pascal di atas digunakan untuk menentukan probaqbilitas
sederhana seperti dalam melempar koin. Untuk menentukan probabilitas
munculnya dua angka saat dua koin dilempar, ambil baris ketiga, jika
tiga koin diambillah baris keempat dan seterusnya. Jumlah angka pada
baris keempat adalah total jumlah cara koin akan jatuh: dua gambar, dua
angka, angka dan gambar. Peluang terjadi dua gambar 1 dan 4 atau angka
pertama dibagi jumlah angka (1+2+1): peluang terjadi satu gambar adalah 2
dan 4, angka kedua dibagi jumlah angka peluang terjadi belum gambar
adalah 1 dari 1, angka ketiga dibagi jumlah angka
Tahun 1655
(John Wallis menulis buku Arithmetica Infinitorum)
Tahun 1665
(Isaac Newton menemukan kalkulus)
Sir Isaac Newton, (4 Januari 1643 – 31 Maret 1727; KJ: 25 Desember 1642 –
20 Maret 1727) adalah seorang fisikawan, matematikawan, ahli astronomi
dan juga ahli kimia yang berasal dari Inggris. Beliau merupakan pengikut
aliran heliosentris dan ilmuwan yang sangat berpengaruh sepanjang
sejarah, bahkan dikatakan sebagai bapak ilmu fisika modern. Bekerja sama
dengan Gottfried Leibniz, Newton mengembangkan teori kalkulus.
Tahun 1673
(Gottfried Leibniz menemukan kalkulus)
Sumber:
http://gush-satya.blogspot.com/2010/02/sejarah-matematika.html